Good Doctor episode 1

 On Monday, August 12, 2013  

Genre: Medical, Romance, Melodrama, Family
Episodes: 20 (To Be Confirmed)
Broadcast network: KBS2
Broadcast period: 2013-Aug-05 to 2013-Oct-08
Air time: Monday & Tuesday 21:55

Cast
Joo Won as Park Shi On
- Choi Ro Woon as Shi Ohn (Child)
Moon Chae Won as Cha Yoon Seo
Joo Sang Wook as Kim Do Han
Kim Min Seo as Yoo Chae Kyung
and many more

Notes 1 :
Tokoh utama drama ini, Park Shi On, menderita idiot savant syndrome, sindrome yang langka. Kondisi dimana seseorang memiliki berbagai cacat perkembangan, termasuk gangguan Autistik, tapi juga seorang yang brilian, yang cemerlang dan jenius, sangat kontras dengan semua kekurangan yang dimilikinya.
Orang dengan sindrom ini bisa saja memiliki tingkat IQ yang sangat rendah jika ia melakukan test IQ, tapi dia juga menunjukkan kemampuan luar biasa brilian dalam bidang tertentu, misalnya dia pintar sekali menghitung cepat, seni, ingatan, atau kemampuan musikal yang luar biasa. Disebut sindrome karena tidak termasuk gangguan mental atau bagiannya.

Episode 1
Bunyi alarm berdering. Park Shi On bangun dan langsung melipat selimutnya. Mencuci rambutnya dan sisiran, awalnya ia mengatur rambut ala Lee Kang To ^^, tapi kemudian ia mengacak rambutnya. Shi On mengunci pintu dan menoleh sekali lagi sebelum pergi. Shi On menyeret koper berodanya ke satu arah.

Shi On melewati lintasan rel kereta yang sepi. Shi On menoleh dan ia ingat sesuatu.
Flashback, beberapa anak menendangi dirinya. Shi On kecil sama sekali tidak melawan ataupun menampakkan rasa sakit, pandangannya hanya terpaku pada kelincinya di dalam kandang.
Kakak Shi On lari dan membubarkan anak2 itu, hentikan! pergi sana! Anak-anak itu langsung lari. Shi On tetap diam tanpa menunjukkan emosi tertentu.
Kakak Shi On memeriksanya, coba kulihat..apa kau terluka? Shi On tetap tidak bereaksi, hanya melihat ke arah kelincinya. Ada kereta lewat yang membuyarkan ingatan Shi On.

Kakak Shi On mengobati luka-luka adiknya, kau harus bicara dan katakan pada mereka kalau kau ingin main dengan mereka. Bagaimana kau bisa dipukuli terus? Kalau kau hanya mengikuti mereka kesana-sini, apa kau pikir mereka akan mengijinkanmu ikut main? Kapan kau akan berhenti main dengan kelinci itu? Aku tidak bisa main denganmu setiap hari. Coba kulihat wajahmu.
Suatu malam, ayah Shi On marah2, ia melempar barang-barang ke arah Shi On dan istrinya. Ayah marah karena istrinya ingin membawa Shi On ke RS. Ayah Shi On ingin istrinya pergi saja. Ibu Shi On menangis sambil melindungi Shi On, kita harus mencari pengobatan untuknya, kita tidak bisa membiarkannya seperti ini.
Ayah membentaknya, dasar wanita gila! Ia semakin kalap dan melemparkan apa saja.

Kakak Shi On ingin membantu ibu dan adiknya. Ia mengambil sapu dan memukuli ayahnya, hentikan! Kubilang hentikan!. Ayah semakin ganas, ia menendang kakak Shi On. Kakak Shi On berdiri sambil memeluk ibu dan Shi On. Berusaha sekuat tenaga melindungi Ibu dan adiknya dengan tubuh kecilnya. Ayah Shi On melempar kandang kelinci milik Shi On dengan kelinci masih di dalamnya.
Shi On sama sekali tidak berekspresi, pandangannya terpaku pada kelincinya.

Shi On membawa kelincinya ke klinik kecil di dekat pemukiman mereka. Dokter yang praktek disitu adalah Dokter Choi Woo Suk. Dr. Choi memeriksa kelinci Shi On, sepertinya sudah meninggal.
Shi On dengan terbata : J-jadi..apa dia pergi ke surga?
Dr. Choi mengangguk, ya, dia pergi ke surga. Shi On tanya apa bisa tidak harus pergi ke surga. Dr. Choi membenarkan, ya kalau dia mendapatkan perawatan yang baik, ada kemungkinan kau tidak perlu pergi.
Shi On : Kalau aku jadi dokter, apa aku bisa mencegahnya pergi ke surga?

Dr. Choi mengangguk. Shi On menepuk-nepuk kelincinya yang sudah mati, aku ingin menjadi dokter.

Shi Oh pergi ke bukit untuk mengubur kelincinya.


Shi On masih membawa kandang kosong bekas kelincinya kemana-mana, ia menggambar kelincinya di jendela gerbong kereta yang sudah tidak dipakai.
Kakak Shi On datang dan memarahinya, kenapa kau main sendirian lagi? Aku kan sudah bilang, agar kau main dengan mereka meskipun mereka memukulimu? Kenapa kau tetap membawa kandang ini kesana-sini? Dengarkan aku. Ayo ikut.

Kakak Shi On membawa adiknya bertemu anak-anak lain, ia tanya apa syaratnya agar adiknya bisa ikut main bersama mereka. Anak-anak itu menunjuk bekas tambang yang sudah ditutup, pergi ke sana dan ambil sekrup di salah satu rel. Kakak Shi On tanya apa jika mereka membawakan sekrup itu, maka anak2 itu akan membiarkan Shi On main bersama mereka. Kalian tidak akan memukulinya?
Mereka janji, kami akan mengajaknya makan tteokboki dan main dengannya.

Kakak Shi On mengerti dan mengajak Shi On masuk ke bekas tambang itu. Keduanya hanya membawa sebuah senter. Tiba-tiba dinding gua runtuh dan kedua anak itu terkubur di dalamnya. Geezz..that's a nightmare for sure.
Regu penolong baru datang malam hari, hujan lagi. Dr. Choi juga ikut masuk ke dalam tambang dan menemukan kedua anak itu. Ibu Shi On histeris diluar tambang.

Dr. Choi masuk untuk menyelamatkan kedua anak itu, ia juga ikut terjebak di dalamnya. Dr. Choi memasang masker oksigennya untuk Shi On dan mencoba melakukan CPR untuk kakak Shi On, tapi sepertinya sudah terlambat.
Shi On mulai sadar, hyung..Dr. Choi berhenti melakukan CPR, sudah terlambat.

Beberapa waktu kemudian, Shi On duduk di bukit lagi, sambil memainkan scalpel plastik hijaunya. Wajahnya seperti biasa, blank.
Kembali ke saat ini, Shi On dewasa juga memainkan scalpel hijau plastiknya sambil menunggu kereta. Saat keretanya hampir masuk stasiun, Shi On membungkus scalpel plastik itu dengan saputangan lalu bersiap naik ke kereta.
Shi On naik ke kereta dan melihat seorang ibu dan anaknya makan telur rebus bersama. Anak laki itu melihat Shi On. Shi On memalingkan mukanya.
Anak laki itu mendekati Shi On, ia memberikan sebutir telur pada Shi On. Anak itu menyuruh Shi On memukulkan telur itu ke kepala. Shi On melakukannya dan kesakitan. Anak itu ketawa geli. Shi On memalingkan wajah lagi ke arah jendela kereta.

Dr. Cha Yoon Seo menceritakan cerita seram pada anak-anak yang dirawat di bangsal anak. ..saat itu, tiba-tiba ada suara mengetuk. Karena anak itu takut, dia pergi mengunci pintu, selangkah...dua langkah...saat dia hampir meraih gagang pintu...dia merasa ada sesuatu dibelakangnya...
tiba-tiba whoarrrr!!! seorang perawat pria mengejutkan anak-anak itu dari belakang. Anak2 menjerit.

Dr. Cha : Akhirnya hantu bakpao itu membawa anak yang tidak mau minum obat, jadi ingatlah untuk selalu meminum obat kalian, mengerti?
Anak-anak mengiyakan.

Seorang pria jalan ke sebuah rumah abu, dia Dr. Kim Do Han. Dr. Kim meletakkan bunga di atas memorial untuk seseorang bernama Kim Su Han? mungkin adiknya. Sepertinya adiknya kembar. Setelah itu Dr. Kim jalan pergi.
Kita bertemu tokoh lainnya, ada Yoo Chae Kyung yang bertemu dengan Lee Yeo Won (Chief Director). Chae Kyung mengajukan proposal untuk pergantian personel RS, mereka tidak bisa mempekerjakan begitu banyak karyawan. Masih terlalu banyak orang di tiap departemennya. Ini masalah untuk RS Univ Seongwon.

Direktur Lee : Kita ini RS, bukan pabrik. Setiap anggota staf diperlukan untuk memberikan perhatian yang baik bagi pasien.
Chae Kyung berkata meskipun bagus memperhatikan kehidupan pasien, sebaliknya tidak baik untuk kehidupan RS. Direktur Lee hanya tersenyum dan mengembalikan proposal Chae Kyung, coba berikan proposal yang baru untukku. Yang bisa kuterima sepenuhnya.
Chae Kyung mengiyakan, tapi wajahnya kelihatan tidak suka.

Shi On turun dari kereta dan mengingat instruksi untuk sampai ke tujuannya : Setelah meninggalkan stasiun, naik ke kereta di jalur 1. Ada perhentian ditengahnya. Total jaraknya 1,9km dalam waktu sekitar 4 menit, ongkosnya 1150 Won. Dengan kartu transportasi umum ongkosnya 1050 Won.
Shi On tiba-tiba berhenti, ia terpaku di depan layar monitor yang menampilkan kartun 3D. Shi On mengambil kacamata 3D sambil menonton kartun.
Dr. Choi selesai mengurus pasien dan melihat Shi On membaca buku kedokteran miliknya. Shi On kecil itu menghafal semua istilah kedokteran dalam bahasa Latin dengan terbata-bata. Dr. Choi terpana melihatnya.
Mungkin sejak itu Dr. Choi mulai menyadari kelebihan Shi On, ia membiarkan Shi On melahap semua buku kedokteran yang ia miliki. Bahkan jumlah buku yang dibaca Shi On semakin menggunung.
Shi On masih sibuk ingin menangkap burung dari layar 3D itu.
Anak yang tadi memberikan telur rebus untuk Shi On jalan sendirian di depan ibunya, ia mengamati orang-orang yang sedang memasang papan iklan besar. Papan iklan itu tiba-tiba lepas, kacanya pecah berantakan dan menjatuhi anak itu. Ahhhh tidak..! kenapa anak ini tidak lari dan justru terpaku disitu sigh..
Papan iklan besar itu mendarat di atas tubuh Hyun Woo. Ada pecahan kaca yang melukainya. Ibu Hyun Woo histeris dan petugas mulai menolong serta memanggil ambulance.

Hyun Woo dipindahkan ke tempat lapang, orang-orang mulai berkerumun.
Seorang pria berusaha menghentikan pendarahan di leher Hyun Woo. Shi On mendekat, tidak boleh.

Shi On langsung jongkok dan menyingkirkan tangan pria itu, kalau kau menekan terlalu keras leher anak kecil, itu bisa menghalangi jalan nafasnya. sebaiknya ditekan dengan posisi lebih tinggi. Shi On menunjukkan caranya.
Shi On memeriksa nadi di leher Hyun Woo, ia ingat semua teorinya tentang trauma. Ada kemungkinan paru-paru dan livernya luka. Shi On berkata denyut nadinya normal.

Shi On membuka baju Hyun Woo dan memperlihatkan pecahan kaca di perut sebelah kanan anak itu. Ibu Hyun Woo ketakutan. Shi On mendengarkan denyut jantungnya. Shi On mengangkat dagu Hyun Woo sedikit lalu mulai melakukan CPR, ia ingat teori, dalam kasus anak-anak, mudah terjadi serangan jantung jika pernafasannya terganggu, jadi pernafasan anak ini harus diperiksa.
Shi On ingat harus memastikan anak ini bernafas tapi tidak ada reaksi dari paru-paru sebelah kanannya, kemungkinan tekanan pneumothorax (ada udara yang terperangkap dan meningkatkan tekanan dalam paru2). Shi On meminta pria itu memberikan pernapasan buatan setiap 3 detik dan periksa gerakan di dadanya.

Shi On lari ke farmasi dan mencari obat2an serta peralatan bedah, sayang tidak ada scalpel ataupun selang. Shi On melihat bolpen (hadew..ngeri).

Shi On kembali lagi ke dekat Hyun Woo. Ia mengenakan sarung tangan latex, melakukan sterilisasi pada cutter dan tempat bolpen lalu mulai membedah Hyun Woo. Orang2 tegang semua. Shi On mengingat teori, ia harus mulai membedah di bagian atas tulang iga ke-5, dengan begitu kau bisa mencegah kerusakan saraf atau pembuluh darah.
Ibu Hyun Woo ketakutan, apa yang kau lakukan? Pria tadi menjelaskan, dia sepertinya membuka jalan ke arah paru-paru yang tertekan agar anak ini bisa bernafas.

Petugas RS datang. Shi On meminta peralatan intubasi untuk anak. Dengan cekatan, Shi On memasang alat itu di mulut Hyun Woo. Shi On mulai memompa. Shi On berpikir, Perut terus saja membesar karena bengkak, sepertinya ada pendarahan di perut. Shi On ingat text book-nya lagi, anak berbeda dengan orang dewasa, anak bisa mengalami kematian hanya dengan pendarahan dalam jumlah kecil. Kita harus cepat melakukan resusitasi cairan.
Shi On memeriksa lengan Hyun Woo, mencari pembuluh darahnya. Petugas tanya, kenapa tidak dipindah ke ambulance dan menggunakan jarum saja.

Shi On : Tidak ada waktu lagi. Kita tidak bisa melakukannya dalam kendaraan yang bergerak. Tolong berikan peerlengkapan infus, cepat..cepat!
Shi On memeriksa kaki Hyun Woo, ia ingat teks : Anak-anak memiliki pembuluh darah yang tipis, itu sebabnya sulit mendapatkan pembuluh darah. Apalagi dengan pendarahan, akan semakin sulit menemukannya. Statusnya sekarang : Syok hipovolemik atau syok karena kehilangan banyak darah.

Shi On memutuskan, harus segera diinfus. Karena pembuluh darahnya tidak terlihat, kita harus memasukkan infus lewat sumsum tulang. Apa kalian punya jarum IO (Intraosseous = diantara tulang)? Petugas bingung karena tidak memilikinya.
Shi On berpikir cepat, kalau begitu lakukan irisan IJ, membuat irisan di pembuluh darah leher. Shi On membasahi leher Hyun Woo dengan alkohol lalu mulai mengiris. Shi On memasukkan selang infus yang direkatkan di dekat mulut masuk ke dalam irisan tadi. Shi On minta petugas menekan infusnya. Selesai.

Shi On : Sekarang kau akan baik-baik saja, Hyun Woo.
(Fiuh..kaya kuliah kedokteran aja haha...)

Orang-orang bertepuk tangan, ada yang merekam aksi Shi On. Shi On minta mereka segera membawa Hyun Woo ke RS. Ia pergi.

Ibu Hyun Woo mengejarnya, ia ingin Shi On ikut bersamanya di ambulance. Shi On bingung, ia harus pergi ke satu tempat. Tapi Ibu Hyun Woo memaksanya. Ia hanya bisa tenang kalau Shi On ikut.

Di jalan, Shi On berkata harus pergi ke RS Univ Seongwon. Paramedik berkata ambulance ini menuju ke RS itu, apa anda dokter disana? Shi On menjawab dengan ragu, Y-yah.

Dr. Choi sedang memberikan preview tentang Dr, Park Shi On di depan semua anggota dewan RS. Park Shi On-ssi memiliki potensi sebagai dokter bedah dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Dir. Lee tanya, atas dasar apa.
Dr. Choi : Park Shi On memiliki sindrome savant. Seperti yang kita ketahui seseorang dengan sindrome savant juga memiliki gejala autis atau gangguan kognitif yang memiliki kemampuan diatas rata-rata untuk bidang tertentu. Dalam kasus Tuan Park Shi On, ingatannya dan kemampuan spasial/berpikir kritis bisa dikatakan jenius. Ketika saya menjalani wajib militer sebagai dokter di Pusat kesehatan Tae Baek, saya kebetulan bertemu Par Shi On-ssi.
Saat Park Shi On berusia 7 tahun, dia telah mengingat semua organ dalam tubuh manusia. Bukan itu saja, dengan kemampuan berpikir kritisnya, ia telah menguasai semua struktur dan fungsi organ-organ manusia seolah-olah ia melihatnya sendiri secara langsung.

Flashback, Dr. Choi melihat Shi On kecil menggambar organ-organ manusia di dinding dengan kapur. Begitu detil dan lengkap.
Dr. Choi melanjutkan, kemudian dia masuk ke Fak. Kedokteran Univ. Song San. Dia lulus ujian negara setelah wisuda. Dia sudah menyelesaikan tugas magangnya (seperti co-ass mungkin/atau dinas 3th itu) dan akan mulai bekerja disini. Dia memiliki nilai-nilai mengesankan dalam sekolah kedokteran. Ya, dia lebih berkualifikasi menjadi dokter daripada orang lain.

Shi On baru sadar kalau tasnya ketinggalan di stasiun kereta. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tiba-tiba denyut jantung Hyun Woo meningkat, ia mengalami kesulitan pernafasan. Shi On menempelkan telinganya ke dada Hyun Woo
Ambulance tiba di RS Univ. Seongwon. Shi On berkata ke dokter UGD : anak ini harus segera diperiksa dengan echocardiogram.
Dokter itu heran, kalau melihat monitor semuanya normal. Apa anda walinya?

Ibu Hyun Woo berkata Shi On adalah dokter yang menyelamatkan anaknya. Dokter itu tanya, ini pertama kalinya saya melihat anda, anda dari bagian mana? Shi On tidak bisa menjawabnya. Shi On hanya fokus pada upaya penyelamatan Hyun Woo. echo...echo..kita harus segera memeriksanya. Echol.
Dokter UGD itu minta Shi On tetap ditempat sementara ibu Hyun Woo boleh masuk. Shi On dengan terbata ingin mengatakan sesuatu, m-maaf, m-maaf!

Yoon Seo bicara dengan pasien anak bernama Eun Ji, ia janji akan membantu agar Eun Ji tidak takut dioperasi. Eun Ji masih ragu. Yoon Seo berkata Eun Ji pasti akan jadi berani kalau sudah bertemu dokter besok pagi. Eun Ji takut, bagaimana kalau aku mati selama operasi?
Suster Nam : Kau akan baik-baik saja. Percaya saja pada dokter cantik ini. (ahhh..ketemu lagi Sekretaris Hyun wkk)

Dr. Han ketawa, siapa yang cantik? Yoon Seo memukul Han sambil ketawa. Ibu Eun Ji lari masuk, dokter, besok itu bukan perawatan psikiater tapi operasi.
Yoon Seo terkejut, ia tidak pernah memerintahkan itu. Ibu Eun Ji berkata Dr. Kim Do Han yang memerintahkannya. Bagaimana ini?

Dr. Cha emosi dan langsung pergi menemui Dr. Kim. Dr. Han mencegahnya tapi ia tidak peduli. Yoon Seo ingin Eun Ji menerima perawatan psikiater dulu baru dioperasi.
Tapi Dr. Kim juga punya alasannya sendiri, dia adalah pasien dengan tumor otak kompleks, kalau kita tidak segera mengoperasinya besok, aku tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi dengan pendarahannya.

Yoon Seo berkata Eun Ji mengalami ketakutan dan mereka harus membuat mentalnya stabil dulu. Dr. Kim tetap berkeras menjalankan operasi, apa kau tidak tahu kalau varises pecah pada seorang anak, itu akan menjadi lebih serius? Kalau kau begitu mencemaskan anak itu, kau seharusnya menjadi guru TK saja dan bukannya dokter.
Yoon Seo melotot marah. Kim Do Han minta Yoon Seo keluar saja dari kasus Eun Ji. Seorang dokter masuk memanggil Kim Do Han, Profesor..ada pasien trauma di UGD.

Dr. Kim pergi ke ruang operasi, siap menangani Hyun Woo dan ia mulaimempelajari tanda-tanda vital Hyun Woo. Shi On ditahan oleh perawat dan petugas. Ia juga ingin masuk. Shi On terus berusaha bicara. Ada yang harus kukatakan.

Dr. Kim dan rombongan melihatnya dengan heran. Apa dia walinya? Suster berkata bukan. Dr. Kim minta mereka diam, ini ruang operasi.

Shi On berusaha bicara echocardiogram dan efusi perikardial (kelebihan cairan dalam perikardium-kantung yang melapisi jantung), tapi mulutnya dibekap agar tidak berisik, jadi suara yang keluar hanya echo...echo.. echocard! pericardial!

Semua dokter heran, apa yang ia katakan? sepertinya ia tidak normal.
Shi On diseret keluar oleh petugas keamanan. Shi On bingung, ini tidak bagus. Sesuatu yang buruk akan terjadi.

Kim Do Han memeriksa kondisi Hyun Woo, ia mengagumi kerja dokter yang memberikan pertolongan pertama, orang itu memasukkan infus lewat pembuluh darah di leher karena banyaknya darah yang hilang, jadi ia melakukan irisan IJ di pembuluh darah leher. Meskipun kita tidak tahu siapa orang ini, dia tahu persis bagaimana menangani anak-anak.

Dr. Choi masih menjelaskan soal Park Shi On. Kang Hyun Tae (deputy director) berkata sesuai aturan Kesehatan mental 3-1, seorang pasien dengan keterbelakangan mental tidak bisa ikut serta dalam ujian negara, jadi bagaimana seorang pasien dengan autisme tingkat 3 bisa mengikuti ujian?
Dr. Choi menunjukkan bukti, saat usia 17 th, gejala autisme dan aspek lain dinyatakan normal. Anggota dewan masih skeptis, katanya dia lulus ujian negara, tapi disini ditulis tidak lulus. Dr. Choi menjelaskan, itu sebabnya ia ingin mempekerjakan Park Shi On, Dewan Ujian Nasional baru menyadari kalau ia memiliki sejarah kesehatan mental, jadi mereka menggugurkannya. 

Dr. Choi ingin RS Univ Seongwon menerima Park Shi On selama setahun agar ia bisa mendapatkan kembali status kelulusannya. Dewan Ujian Nasional memutuskan jika ada spesialis yang sesuai dengan profesi Shi On bisa menjamin kemampuannya maka mereka akan membatalkan keputusan untuk mendiskualifikasi Park Shi On. Dr. Choi menunjukkan dokumen dari Dewan Ujian Nasional.

Tentu saja hampir semua anggota dewan merasa skeptis dan tidak percaya. Mereka tanya apa gejala autismenya telah sembuh. Dr. Choi tidak bisa memastikan kalau Park Shi On sudah sembuh sepenuhnya, tapi dia tidak akan menimbulkan masalah sebagai dokter.
Dewan tanya, apa maksudnya dia belum sembuh sepenuhnya?
Dr. Choi : Park Shi On-ssi sangat luar biasa dalam keahlian ilmu bedahnya dan kemampuan untuk merespon situasi, tapi kemampuan sosial dan komunikasinya kurang jika dibandingkan orang normal.
Dewan : Jadi maksudnya, ia masih tidak stabil secara mental? Ini konyol.

Mereka tidak percaya Park Shi On akan sanggup membuat keputusan logis dan memenuhi tanggung jawabnya sebagai dokter. Apa RS kita adalah pusat rehabilitasi untuk orang cacat? Beraninya anda merekomendasikan orang seperti itu.
Direktur Lee menegur pria itu, Executive Direktur, kata-kata anda sedikit kasar hari ini. Mereka ingin bertemu Shi On lebih dulu baru memutuskan, tapi sudah 30 menit berlalu dan Park Shi On belum tiba disini.

Dr. Choi mencoba terus menghubungi ponsel Shi On yang tertinggal di dalam tasnya di stasiun kereta. Sigh..
Shi On masih ada di depan ruang operasi dan masih berusaha masuk ke dalam.

Dr. Kim Do Han memulai operasi dan merasa ini masalah biasa, tapi tiba-tiba denyut jantungnya menjadi 180, tekanan darah 50/30 dan terus menurun. Sepertinya ada masalah di jantungnya.
Dr. Kim tanya hasil echo Hyun Woo tapi asistennya berkata mereka tidak memeriksa echo-nya karena kami pikir tidak ada yang salah dengan jantungnya. Tiba-tiba Dr. Kim sadar arti teriakan Park Shi On tadi, echocardiograph! Dr. Kim minta dibawakan mesin echo lalu ingat lagi kata2 Shi On, pericardial effusion. Dr. Kim melakukan persis yang dianjurkan Shi On.

Shi On seperti bermeditasi, lalu ia membayangkan mengenakan seragam operasi dan mulai membedah Hyun Woo. Shi On berkata dengan keras, melakukan prosedur perikardiosintesis (menghilangkan cairan dalam kantung perikardium menggunakan jarum) pada anak2 itu tidak mudah, karena sudutnya sangat sempit.
Dr. Kim juga memikirkan hal yang sama, tapi ia memutuskan untuk membedah lewat perut. Shi On juga memutuskan melakukan hal yang sama. Tiba-tiba di tengah proses, terjadi pendarahan. Shi On juga memikirkan hal yang sama, jika terjadi pendarahan di perikardium...jantungnya harus dibuka, lalu segera menemukan sumber pendarahannya, setelah penyerapan mulai proses sternotomy (proses irisan biasa tapi untuk bedah jantung). Dr. Kim mulai melakukan sternotomy.



Karena Park Shi On tidak juga hadir, anggota dewan RS melakukan voting. Ternyata mayoritas mengangkat tangannya, termasuk Chae Kyung.
Dir. Lee Yeo Won adalah satu-satunya anggota dewan yang tidak mengangkat tangannya. Dr. Choi menghela nafas pasrah, usahanya membantu Shi On sepertinya kandas.

Dir. Lee menyimpulkan, karena mayoritas menolak, maka proposal untuk mempekerjakan sementara Park Shi On-ssi ditolak.
Shi On masih berdiri di depan ruang operasi dengan posisi seperti yang ada di pikirannya sendiri. Petugas keamanan bingung, apa yang ia lakukan? Dia sudah seperti itu selama 2 jam. Tapi sepertinya ia mengalami kesulitan.
Dalam pikirannya, Shi On melihat tekanan darah Hyun Woo menurun drastis, hati-hati ini bisa menyebabkan serangan jantung.

Ternyata hal itu terjadi dalam ruang operasi, tekanan darah Hyun Woo turun sampai 45/30. Serangan jantung. Para dokter memutuskan memacu jantung Hyun Woo secara langsung. Shi On juga melakukan itu dalam pikirannya.
Kedua dokter mulai menjahit jantung. Thank God...Hyun Woo selamat.
Dr. Kim menemui Ibu Hyun Woo dan mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar, pendarahan di liver dan limpanya sudah berhenti. Meskipun ada pendarahan di perikardium-nya tapi untungnya semuanya beres setelah mereka menemukan sumber pendarahannya.
Ibu Hyun Woo menangis lega, terima kasih dokter.

Shi On mendengar percakapan mereka dan bicara sendiri, terima kasih Hyun Woo.
Dr. Kim tanya apa Ibu Hyun Woo tahu dokter yang memberikan pertolongan pertama untuk anaknya. Ibu Hyun Woo menjawab, dokter itu ada disini beberapa menit lalu, katanya ia dokter di RS ini.

Shi On akhirnya jalan masuk ke ruang meeting. Dr. Choi masih ada di ruang itu, ia duduk sendirian. Dr. Choi kesal sekali dan hampir membentak Shi On, tapi batal setelah melihat kondisi Shi On yang gugup dan tampak ketakutan. Dr. Choi menggenggam tangan Shi On.
Dr. Choi : Apa sebenarnya yang kau lakukan? Bukankah kau sangat tepat waktu? Kenapa kau baru datang sekarang?
Lalu melihat baju Shi On yang ada bekas darahnya, kenapa dengan bajumu?

Shi On menjelaskan, saya menolong seorang anak yang terluka di stasiun Cheongryangri. Dr. Choi tanya apa anak itu baik-baik saja?
Shi On mengiyakan. Dr. Choi menghela nafas, Shi On..dengarkan aku baik-baik.

Dokter2 lain istirahat sambil membicarakan dokter yang memberikan pertolongan pertama pada Hyun Woo, bagaimana ia bisa tahu kalau itu adalah traumatic pericardial tamponade dalam situasi itu? Mereka mengaku tidak akan memikirkannya jika ada dalam posisi yang sama. Bahkan tidak mudah melihatnya meskipun sudah ada data sinarX dan CT-scan. Mereka memuji Dr. Kim yang berhasil mengatasi situasi kritis di meja operasi.
Para dokter sebenarnya menunggu dokter baru yang katanya akan segera masuk, siapapun dia kuharap ia bisa segera masuk agar kita bisa pulang ke rumah.

Dr. Kim termenung di kantornya, sambil mengamati rubiknya yang masih tidak beraturan (perasaan aku juga belum bisa menyelesaikan rubik haha..) ia ingat kata-kata Shi On saat orang itu ditarik pergi.
Dr. Choi menggandeng tangan Shi On sambil duduk di halaman RS, apa kau ingin tetap disini?
Shi On : Tidak.
Dr. Choi : Apa kau tidak lapar?
Shi On : Tidak.
Tapi perut Shi On bunyi keras sekali haha..Dr. Choi geli dan menggoda Shi On, benarkah? Kalau begitu aku akan pergi makan kalbi sendirian.

Shi On langsung tertarik dan berdiri, apa maksudnya sup yang dibuat dengan daging sapi kualitas A, kastanye, dan kacang pinus?
Dr. Choi membenarkan, tapi katanya kau tidak lapar. Shi On berkata ia memang tidak lapar, tapi karena ia terus bergerak kesana-kemari maka ususnya berkontraksi terlalu besar. (Hahaha...ini istilah medisnya kelaparan)
Dr. Choi hanya bisa ketawa.

Anggota dewan jalan keluar sambil membicarakan masalah perekrutan karyawan baru. Direktur Lee tidak suka dengan cara mereka memperlakukan calon karyawan baru. Presdir yang lama bahkan melihat sendiri dan berkomunikasi dengan semua staf baru. Dokter2 kita bukanlah karyawan, melainkan bagian dari keluarga.
Mereka melihat rombongan reporter yang berdiri di bagian tamu, mereka ingin tahu soal dokter yang menolong anak di stasiun itu. Kang Hyun Tae mendekat dan tanya ada masalah apa.

Para reporter ingin bertemu dokter yang menolong seorang anak di stasiun Cheongryangri, katanya dia dokter dari RS ini. Kang Hyun Tae heran, benarkah? dokter yang mana? Sayangnya reporter itu hanya tahu kalau dokter itu berasal dari RS Univ. Seongwon.
Sekarang waktunya melihat Joo Won makan...!! hehehe...dia lucu sekali kalau makan.
Dr. Choi geli melihat Shi On makan, semua ini bagianmu, makanlah pelan-pelan Nak. Shi On mengiyakan sambil terus mengunyah, nom..nom

Dr. Choi makan sambil mendengarkan berita. Ada berita tentang dokter yang menolong anak kecil di stasiun. Seseorang merekam peristiwa itu dan menjadikan video itu populer dalam sekejap. Dokter dalam video itu melakukan pertolongan darurat dengan menakjubkan. Dr. Choi melihat layar TV dan ia terpana, karena dokter ajaib yang dikagumi orang2 adalah Park Shi On.
Shi On masih sibuk mengunyah. Nom..nom..



Pihak RS menelepon Dr. Choi. Sekali lagi Dr. Choi harus berdiri di depan anggota dewan RS yang merasa serba salah. Mereka sudah menolak Park Shi On, tapi pihak luar merasa Park Shi On adalah dokter di RS Univ. Seongwon. Ini semua karena video yang sudah beredar luas bahkan sampai LN.  Chae Kyung merasa kurang setuju kalau mereka mempekerjakan Park Shi On hanya karena alasan video ini.
Direktur Lee berkata ini bagus untuk promosi RS mereka dan juga ia kagum dengan kemampuan Park Shi On sebagai dokter.

Dr. Kim Jae Jun dari bagian bedah pankreas juga tidak setuju karena Park Shi On memiliki gejala autis yang akan menyulitkan dalam mental dan kehidupan, lagipula autisme juga bukan sesuatu yang bisa diobati dengan mudah. Meskipun sudah diobati, tetap ada efek sampingnya. Semua masih belum setuju, kalau ada masalah, RS kita bisa dijadikan bahan tertawaan.

Dr. Choi memohon, tolong berikan kesempatan 6 bulan kepadanya. Jika timbul masalah dalam kurun waktu itu atau kemampuannya terlalu rendah sebagai dokter, saya akan meninggalkan posisi saya.

Semua terkejut. Posisi Dr. Choi adalah Direktur Utama di RS itu. Dr. Choi tahu autisme memang tergantung segi biologis seseorang, tapi autisme bisa disembuhkan, kondisinya berbeda tergantung pada keadaan pasiennya. Tapi ada kemungkinan untuk diobati. Park Shi On adalah satu dari contoh kasus itu. Ini bukan soal merehabilitasi orang cacat, tapi untuk memberikan harapan dan dorongan untuk orang-orang yang menderita autisme dan keluarga mereka di negara ini.
Saya mohon, pandanglah ini dengan pikiran yang lebih terbuka. Dr. Choi membungkuk.

Park Shi On muncul di pintu. Lalu jalan ke depan anggota dewan tanpa melakukan kontak mata. Shi On membungkuk. Direktur Lee tanya, ini hanya pertanyaan teoritikal, kenapa anda ingin menjadi dokter bedah anak?

Shi On : Ini karena kelinci dan kakak. Saat pohon berbau seperti es krim, Kelinci pergi ke surga. Saat tambang berbau seperti besi berkarat, Hyung pergi ke surga di depan saya. Tidak satupun dari mereka bisa menjadi orang dewasa. Saya ingin membiarkan mereka menjadi orang dewasa, memiliki anak-anak mereka dan mencintainya. Saya selalu ingin melakukan itu.
Direktur Lee dan Kang Hyun Tae terharu.

Shi On melanjutkan, juga, setelah punya banyak uang, saya ingin membelikan TV 3-D pada anak-anak di panti asuhan tempat saya tinggal. Karena anak-anak itu belum pernah melihat TV itu sebelumnya. Saya ingin menunjukkan itu pada mereka.



Dr. Choi tampak bangga pada Shi On. Ruang sidang menjadi hening. Direktur Lee yang pertama bicara, ia menyambut Dr. Park Shi On sebagai dokter anak di RS Univ Seongwon. Selamat datang, Dr. Park Shi On
Kang Hyun Tae juga menyambut Shi On dan mereka bertepuk tangan, tapi anggota dewan masih terbagi dua. Yoo Chae Kyung kelihatan tidak senang dengan keputusan ini. Shi On seperti biasa, tampak kikuk dan malu.

Setelah pertemuan itu, Direktur Lee bertemu dengan Dr. Choi. Dir. Lee berkata ini pertama kalinya ia melihat Dr. Choi bertindak secara sembrono. Dr. Choi merasa kali ini memang pantas ia bersikap seperti itu sekali-kali.
Yeo Won kesal, posisimu ada dalam bahaya karena Shi On. Sejak awal, ini bukan masalah Shi On akan menjadi dokter, tapi sebuah permainan kekuasaan.

Dr. Choi tersenyum, kau tahu aku tidak pernah mengerti soal itu.
Yeo Won : Kau harus tahu, karena semua orang mencoba menurunkanmu dari posisi ini.
Dr. Choi tampak santai menanggapinya, meskipun aku bukan Direktur lagi, aku tetaplah seorang dokter. Yeo Won menghela nafas, aku seperti bicara dengan tembok saja.

Shi On diwawancara para reporter dan ia menjelaskan semua keadaan Hyun Woo. Sementara para anggota dewan yang tidak suka dengan Dr. Choi merasa ini kesempatan bagus untuk menendang Direktur dari RS. Lee Hyuk Pil ingin Chief Go Choong Man mulai menyebarkan rumor di RS ini kalau Park Shi On bisa masuk karena Direktur Choi, kau harus memutar balikkan fakta sebanyak mungkin. Chief Go ketawa, saya mengerti. Dia mungkin tidak akan bisa bertahan untuk sebulan saja.
Kang Hyun Tae mengamati Shi On sejak tadi dan berkata pada kedua rekannya, apa kalian merasa ini adalah Casino? Rekan2nya tidak mengerti. Kang Hyun Tae menjelaskan, kita memutar rodanya dan Dr. Park Shi On adalah bolanya, kemungkinan kita menang...tidak seorang pun tahu.
Dr. Kim Do Han masih berkutat dengan rubiknya, ia pikir bisa menyelesaikannya selama beberapa jam, tapi ternyata sudah satu minggu dan belum kelar juga (aku belum pernah menyelesaikannya). Chief Go masuk ke ruang dokter dan minta semuanya perhatian. Ia berkata kalau Direktur akan mengenalkan dokter baru. Semua tampak senang. Tapi Chief Go mencibir, kalian lihat sendiri nanti kondisinya.
Dr. Choi masuk bersama Shi On. Para dokter terkejut, bukankah dia yang membuat keributan di ruang operasi tadi?
Dr. Choi hanya tersenyum, baiklah semuanya beri salam, ini Dr. Park Shi On, dokter baru kita. Oya, kemana Dr. Cha Yoon Seo?
Dr. Han : Dia pergi karena ada urusan.

Dr. Choi minta Shi On mengenalkan diri. Shi On mengenalkan diri dengan sangat cepat, Halo, saya Park Shi On yang tinggal di 23-12 Guam-dong, Kota Chun Cheon, Propinsi Gangwon dan saya sudah menyelesaikan magang di Fakultas Kedokteran Univ. Song San.
Semua terkejut dengan cara perkenalan yang tidak wajar ini. Chief Go hanya berbisik, apa kataku? Dr. Choi tetap tersenyum, aku pergi dulu, kalian ngobrol saja sendiri. Prof Kim, aku mengandalkanmu.

Chief Go memanggil Shi On. Dr. Woo tanya apa nama Shi On sama dengan karakter "Morning Glory"?
Shi On : Bukan. Shi artinya memberi dan On artinya hangat. Artinya memberi kehangatan. Seorang pendeta dari gereja memberikan nama itu kepadaku..

Chief Go langsung membentak Shi On, apa kau tahu dimana ini? Ini adalah Bagian Anak terbaik di negara ini, Bagian Anak RS Univ. Seongwon! Apa kau tidak tahu itu?

Tiba-tiba Shi On menjawabnya : Ah benar, kopi..kopi.
Semua heran mendengarnya. Shi On melanjutkan, untuk orang yang terus membentak dan berteriak selama 8 tahun, energi yang dikumpulkan dari gelombang suaranya bisa mendidihkan secangkir kopi.

Shi On melihat kartu nama Chief Go, tapi ....dengan tingkat desibel Kepala Dept Go waktu itu bisa dipersingkat.

Para dokter harus menahan diri agar tidak ketawa sementara Chief Go seperti akan meledak, bagaimana orang seperti ini bisa ada?! Shi On diam saja, tanpa ekspresi.
Dr. Kim Do Han menghadap Dr. Choi, ini bukan masalah sindrom savant atau kemampuannya. Tapi bagaimana seseorang dengan mental anak SD memiliki kemampuan untuk membuat keputusan? Orang tua pasien jelas tidak akan menerima dokter semacam ini. (Well...ini kenyataan yang pahit memang, kalau diminta memilih, sebagai parent ya pasti memilih dokter yang memiliki keutuhan secara mental.)

Dr. Choi berkata, keputusannya dibuat untuk mengetes kemampuan Shi On untuk mengerti tentang situasi dan membuat keputusan. Tentu saja, ia akan berhasil.
Dr. Kim : Saya tidak pernah melawan perintah anda sampai sekarang, karena anda tidak pernah mengatakan apapun yang membuat saya harus melawannya. Tapi, kali ini lain. Saya rasa saya akan melawan anda untuk pertama kalinya.

Dr. Choi : Prof. Kim, jangan memikirkannya dengan emosional.
Kim berkata ia bukannya emosional tapi ia mengatakan ini dari semua perspektif keseluruhannya. Dr. Choi menganggap mereka semua adalah anaknya. Dr. Kim minta Dr. Choi mempertimbangkan pendapatnya, karena ia juga anak/murid Dr. Choi.

Dr. Choi memohon Dr. Kim membantunya, Do Han..kumohon paling tidak kau akan membantu Shi On. Ini adalah harapan terakhir guru yang tidak memiliki kekuasaan ini.
Dr. Kim mengeluh tapi tidak bisa menolaknya jika gurunya sudah seperti ini.

Shi On harus menjalani interview dari Dr. Kim Do Han. Kim bertanya apa sebutan untuk dokter bedah anak?
Shi On : Dokter bedah umum.
Dr. Kim : Alasannya?
Shi On : Ini karena bedah anak termasuk semua sistem organ anak. Sementara anak masih dalam tahap pertumbuhan sehingga banyak variabel yang termasuk di dalamnya yang menyebabkan perbedaan diagnosa dan cara pengobatannya.

Di tengah wawancara, pandangan Shi On terpaku pada rubik yang belum selesai. Ia tidak mendengar kata2 Dr. Kim, bedah umum yang tadi kau sebutkan adalah sesuatu yang tidak bisa kau lakukan. Mulai sekarang kau harus memikirkan kenapa kau tidak bisa menjadi dokter bedah umum, mengerti?
Shi On tidak menjawab karena matanya terus memandang rubik.
Dr. Kim marah dan membentaknya. Shi On minta maaf.

Dr. Kim menegaskan, kalau kau ingin kerja di bawahku, ada dua hal yang tidak bisa kau lakukan. Membuat kesalahan dan membuat alasan.
Shi On mengiyakan. Dr. Kim menghela nafas, sekarang kau pulang saja dulu dan mulai besok, kau harus siap 24 jam penuh. Ambil jadwal kerjamu dari seniormu. Keluar.
Shi On membungkuk dan jalan keluar.

Dr. Kim menahannya, tunggu dulu, apa kau pernah melakukan operasi selain melakukan pertolongan pertama?
Shi On : Selain melakukan pertolongan pertama, saya belum pernah melakukan operasi apapun.

Dr. Kim heran, bagaimana kau bisa tahu kalau luka Hyun Woo disebabkan karena trauma di jantungnya?
Shi On : Hyun Woo...saya menarik kesimpulan di kepala saya berdasar dari apa yang saya amati, dengar dan pelajari.

Dr. Kim ingin tahu lebih spesifik lagi. Shi On menjelaskan, meskipun denyut nadi Hyun Woo sangat lemah saat di ambulance, tingkat saturasinya normal. Tapi, meskipun ditransfusi darah, tekanan darahnya tidak berubah.
Dr. Kim : Kau menarik kesimpulan hanya karena tidak ada perubahan dalam tekanan darahnya?
Shi On : Tidak. Takut kalau ada alasan lain, saya memeriksa dan menemukan masalahnya.  Dan karena tekanan darahnya rendah dan denyut nadinya normal, saya menduga itu Beck's Triad (tiga tanda medis yang berhubungan dengan serangan jantung). Ada darah dalam perikardium jantungnya.

Dr. Kim tampak terkesan. Dr. Han Jin Wook menarik Dr. Kim dan memintanya memeriksa hasil foto rontgen. Dr. Kim menyuruh Shi On pergi. Tapi saat Dr. Kim kembali ke kantor, Shi On masih berdiri di tempatnya. Park Shi On, apa yang kau lakukan? Apa ada yang ingin kau katakan? Shi On berkata tidak, lalu pergi.



Dr. Kim Do Han baru menyadari kalau rubiknya ternyata sudah diselesaikan Shi On. Wow...super. Fantastic!
Chief Go menemui seorang pasien anak. Ibu anak itu berkata, anaknya merasakan sakit sehabis operasi. Chief Go berkata itu wajar, biasanya sehabis operasi memang masih terasa sakit selama seminggu. Ia akan memberikan obat terbaik untuk anak itu. Chief Go langsung pergi begitu saja.
Perawat Jo mengejarnya, Dokter..! Chief Go justru memarahinya, bukankah aku sudah bilang jangan mencariku kalau aku mau pulang? Perawat Jo berkata Seung Jo (pasien) teriak2 kesakitan.

Chief Go semakin marah, perawat Jo, apa kau ini dokternya? Apa kau orang baru? ribut atas masalah sepele seperti ini. Aku harus menghadiri seminar penting besok pagi, jadi jangan mencariku! (Ampun..ini contoh dokter tidak bertanggung jawab, mementingkan seminar untuk namanya sendiri dan tidak mempedulikan pasien, tapi uangnya mau booo...!)

Shi On melihat Hyun Woo dan tampak senang karena sepertinya kondisinya semakin stabil.

Yoon Seo minum-minum di bar bertema RS. Ia mengeluh karena meskipun sudah minum banyak tetap saja tidak mabuk. Bartender heran, kenapa kau seperti ini? Apa kalian Tom & Jerry di kehidupan yang lalu? (Sepertinya bartender ini kenal baik dengan Yoon Seo dan Do Han.)
Yoon Seo kesal karena Do Han tidak mendengarkan pendapatnya. Bartender itu berkata tidak suka dengan orang yang berpikir terlalu tinggi dan arogan, itu sangat mengesalkan. Do Han juga seperti itu, tapi itu cocok untuknya.

Yoon Seo marah : Paman! kenapa paman selalu membelanya? Ya benar..memang aku yang jahat disini. Aku..
Bartender setuju, jadi kau menyadarinya. Apa aku campur saja 50:50 agar kau cepat mabuk? (ampun haha) Yoon Seo menolak, ia ingin campuran 70 % soju dengan 30% bir. Pamannya langsung mencampur minuman Yoon Seo.

Ponsel Yoon Seo berdering, Dr. Kim Do Han tanya dimana Yoon Seo. Yoon Seo berbohong, ada di perpustakaan. Kim Do Han menegurnya, apa kau minum lagi?
Yoon Seo : Apa pedulimu?
Kim Do Han : Apa kau masih marah?
Yoon Seo : Kenapa kau seperti itu? Apa kau akan menghiburku?

Kim Do Han : Tidak. Aku ingin kau introspeksi apa sebenarnya kesalahanmu hari ini. Minum-minum sebagai pembenaran atas sikapmu itu tidak akan membantu. Jangan minum banyak-banyak dan bersiaplah untuk operasi besok pagi.

Kim Do Han langsung menutup telpnya. Membuat Yoon Seo tidak percaya dan tambah marah, halo? apa ini! Bagaimana bisa ada orang seperti ini! Yoon Seo minta bartender mencampur semua minuman yang ada di bar ini, semuanya!

Park Shi On masuk ke apartemen barunya dan melihat-lihat sekitar.

Do Han pulang dan menemukan baju di tangga. Ia mengenali baju itu, baju Chae Kyung. Chae Kyung keluar hanya mengenakan jubah mandi, keduanya sudah bertunangan. Do Han komen, seharusnya kau bilang kalau akan datang.

Do Han heran kenapa Chae Kyung mengenakan setelan resmi. Chae Kyung berkata harus menghadiri meeting hari ini, ia mengatakan hasilnya. Aku sudah menolak usul Direktur untuk mempekerjakan Park Shi On demi dirinya. Do Han heran, apa maksud Chae Kyung.

Chae Kyung : Akan lebih baik kalau Direktur menerima keputusan untuk tidak mempekerjakan orang itu, tapi Direktur tetap ingin mempekerjakannya. Jika dokter baru ini menimbulkan masalah, Direktur akan bertanggungjawab dan akan mengundurkan diri dari posisinya sebagai Direktur RS.
Do Han terkejut sekali, ia baru tahu soal ini. Mengundurkan diri?
Chae Kyung membenarkan, jadi orang itu diterima untuk alasan ini, agar Direktur diganti. Direktur Eksekutif Lee yang berpikiran simpel hanya bisa menentang sementara Asisten Direktur justru mendorong semua orang menyetujuinya, Asisten Direktur (Kang Hyun Tae) ini benar-benar licin. Asisten Direktur adalah orang yang membuatku cemas. Dia satu2nya orang yang tidak bisa kubaca pikirannya.

Yoon Seo jalan pulang dalam kondisi mabuk berat, ia lompat sana, lompat sini, menyanyi, teriak2. Aku benar2 tidak mengerti Kim Do Han yang menyebalkan itu. Ada seorang paman yang meneriakinya karena berisik, kalau mabuk cepat pergi dan pulang sana!
Yoon Seo balas teriak. Hahaha...

Shi On menyusun biskuit coklat dan menyalakan lilin diatas biskuit itu. Shi On memegang scalpel plastik hijaunya. Shi On ingat, saat ia kecil, kakaknya juga melakukan hal yang sama dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Shi On.
Kakak Shi On minta adiknya meniup lilin. Shi On melakukannya. Lalu kakaknya memberikan kado untuk Shi On, aku membeli ini dengan menabung semua uang jajanku. Shi On membuka kadonya, isinya adalah mainan dokter-dokteran...awww so sweet. Shi On mengambil scalpel plastik hijau.

Kakak Shi On : Katanya kau ingin jadi dokter kan?
Shi On mengangguk. Kakak Shi On berkata ia percaya Shi On akan jadi dokter, karena kau adalah adikku, benar kan?
Shi On : Karena aku adalah adik kakak.

Kakaknya tersenyum dan mengacak rambut Shi On, Shi On..kau jelas tidak bodoh. Dibandingkan aku, kau ratusan kali lebih pintar. Kau harus menjadi dokter yang hebat. Nanti, kalau ibu dan aku sakit, kau yang akan mengobati kami, mengerti?
Shi On mengangguk. Kakaknya mengambil biskuit coklat dan menyuapkannya untuk Shi On, ayo makanlah, pelan-pelan. (Hiks..mengharukan)

Shi On dewasa meniup lilin lalu memakan biskuit coklatnya.

Tiba-tiba ada yang membuka kunci apartemennya. Yoon Seo jalan masuk ke apartemen Shi On begitu saja, masih dalam kondisi mabuk berat. Shi On tampak bingung.
Yoon Seo mulai membuka bajunya sendiri sambil ngomel dan memaki Kim Do Han wkkk, selain tampangmu aku tidak menyukai apapun tentang dirimu. Shi On masih mengunyah biskuit coklat sambil melihat Yoon Seo yang mulai melepas jeans-nya wow...
Yoon Seo dengan cueknya naik ke tempat tidur.

Shi On meletakkan biskuitnya dan mendekati Yoon Seo, maaf!
Yoon Seo membentak Shi On dengan mata tetap tertutup, pergi kau, brengsek! Apa kau mau pamer kalau kau dokter lagi? Kau bahkan tidak membiarkanku tidur....Yoon Seo tidur.

Shi On bingung, ia mondar-mandir tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Shi On memandangi Yoon Seo yang sedang tidur.

Paginya.
Terdengar teriakan keras. Yoon Seo terbangun, ia duduk di tempat tidur dan teriak saat melihat Shi On berdiri di depannya sambil menggosok gigi dengan hanya mengenakan celana pendek. Good morning..^^
Muahahaha...

Notes 2:
Love this show. Joo Won benar2 brilian memerankan tokoh utama dengan sindrome savant dan autism. Ceritanya ringan dan bisa ditebak, yah RS dan segala konfliknya. Tapi yang menyentuh adalah, K-drama ingin mendorong masyarakatnya sendiri untuk tidak memandang rendah orang2 dengan sindrome savant atau autism. Mereka juga pribadi istimewa yang memiliki bakat dan berhak mendapat perlakuan adil, untuk menghargai dan menyayangi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Bravo.


Dan sebagai penekanan, bahwa bedah anak itu berbeda dengan bedah untuk orang dewasa, jadi dokter spesialis bedah anak memang harus lebih teliti dan hati-hati.


Ini seperti reuni Gaksital, Level 7 dan Nice Guy haha..ada Kimura Taro, Abe Sinji (dia jadi senior Lee Kang To? keren), ada Sekretaris Hyun juga. Ep awal ini terlalu banyak teori kedokterannya ya? tapi itu yang menunjukkan betapa jeniusnya Park Shi On. Mungkin ep-2, aku singkat2 saja teknik kedokterannya (lha wong aku juga bukan dokter meskipun ada beberapa dokter di keluargaku). Aku suka gaya bicara Park Shi On, cepat sekali kaya senapannya Rambo dan Shi On ini manis sekali, anak pintar kaya gini, rasanya pingin diadopsi :)
Good Doctor episode 1 4.5 5 Beetlebum Monday, August 12, 2013 Genre: Medical, Romance, Melodrama, Family Episodes: 20 (To Be Confirmed) Broadcast network: KBS2 Br...


No comments:

Post a Comment